oleh

Ironis. Jembatan Nyaris Ambruk Menjadi Alternatif Perekonomian dan Pendidikan Masyarakat Desa Batu Botuk, Kabupaten Paser

Tana Paser, NMC Borneo – Meskipun nyaris ambruk, sejumlah warga tetap bertahan dan nekat gunakan jembatan gantung penghubung antar RT di Desa Batu Botuk Kecamatan Muara Komam.

banner

Salah satu pondasi jembatan ambruk karena tanah di sungai tidak dapat menahan bangunan diatasnya didukung dengan arus air sungai yang meningkat selama musim penghujan.

Akibatnya oprit atau jalan menuju jembatan Terpisah dengan badan jembatan. posisi jembatan gantung menjadi miring dan licin.

Mensiasati terpisahnya oprit dan badan jembatan karena ambruknya pondasi, warga desa menyusun beberapa bambu yang kemudian diikat dengan tali sebagai alternatif jalan menuju badan jembatan.

“Sekitar Maret. Kejadian pondasi ambruk ini terjadi tepat didepan mata saya, saat itu saya bersama kepala desa Batu Botuk. Kebetulan rumah saya berdekatan dengan lokasi jembatan, pondasi jembatan sudah tidak kokoh Karena tanahnya tidak bisa mencengkram lagi,” kata ketua Badan Pengawas Desa (BPD) Desa Batu Botuk Arbani, Rabu (26/4/2023).

Arbani mengungkapkan setelah pondasi jembatan ambruk, pemerintah desa telah berinisiatif menyediakan perahu dan memasang tali penghubung sungai untuk digunakan warga sebagai transportasi darurat.

“Kami bekerjasama dengan instansi swasta dan pemerintah juga untuk peningkatan jalan poros desa Batu Botuk untuk digunakan warga,” jelasnya.

Pada awalnya warga bersedia menggunakan transportasi darurat, tetapi seiring berjalannya waktu sejumlah warga berinisiatif menyusun beberapa bambu yang kemudian diikat dengan tali sebagai alternatif jalan menuju badan jembatan yang digunakan hingga saat ini.

Arbani mengatakan, tidak sedikit warga yang nekat menggunakan jembatan hampir roboh tersebut karena jembatan ini merupakan akses utama warga untuk keluar daerah. Meskipun ada akses jalan lain, namun jaraknya hampir dua kali lipat lebih jauh dibandingkan dengan menggunakan jembatan gantung.

“Gak ada jembatan lagi untuk penghubung RT 1 dan 2, hanya ini satu-satunya akses utama untuk belanja ke warung atau anak sekolah. kalo orangtuanya berhalangan mengantar atau menjemput mereka harus jalan memutar, jadi lebih memilih lewat jembatan.” ujar dia.

Mewakili Warga Desa Batu Botuk khususnya yang terdampak, Arbani berharap jembatan gantung tersebut dapat direhabilitasi atau dibangunkan jembatan gantung kembali untuk akses warga.

“Tidak perlu sama persis dengan jembatan gantung sebelumnya, yang penting bisa dilewati minimal sepeda motor atau pejalan kaki untuk memudahkan akses warga,” pungkasnya.

Penulis : Mekka Medina
Editor : Redaksi

Komentar