oleh

Mahasiswa Asal Paser Pilih Indekos, Asrama Paser Ke Mana?

Nmcborneo.com, Kalsel – Mahasiswa perantauan biasanya mengandalkan akomodasi selama perkuliahan pada asrama yang disediakan oleh pemerintah masing-masing daerah asal. Salah satunya terdapat Asrama Paser di Banjarmasin dengan tujuan agar mahasiswa perantauan dari Paser bisa mendapatkan tempat tinggal yang murah. Meski sudah disediakan fasilitas, ternyata banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk indekos, ketimbang tinggal di Asrama Paser.

Adanya aturan yang mengikat dan masa orientasi di awal masuk, menjadi alasan beberapa mahasiswa menolak tinggal di asrama tersebut. Selain itu, mahasiswa yang tinggal di Asrama Paser juga mengeluh karena keadaan asrama yang kurang nyaman. Keadaan kurang nyaman yang dirasakan Anggota Asrama Paser ini berkaitan dengan proposal untuk perbaikan gedung yang dikirimkan anggota asrama setiap tahunnya, tidak kunjung berhasil membuat Pemerintah Kabupaten Paser melirik keadaan mereka.

banner

Mahasiswa Lebih Pilih Indekos

Ika Aqidatul Izzah, Mahasiswa Akuntansi 2019 menyatakan, dirinya lebih memilih indekos daripada tinggal di Asrama Paser. Adanya masa orientasi anggota asrama baru dan jadwal piket di Asrama Paser, menjadi alasan Ika berpikir lagi untuk tinggal di asrama. “Sejak awal, saya sudah merasa lelah karena orientasi kampus, ditambah harus orientasi asrama lagi. Kemudian, di asrama biasanya ada jadwal piket, saya khawatir mengganggu fokus belajar,” keluhnya via telepon, Senin (13/9).

Walaupun belum pernah datang langsung ke Asrama Paser di Banjarmasin, Ika mengaku pernah berkunjung ke Asrama Paser yang ada di Malang, ia mengatakan tempatnya seperti kurang terawat. Melihat keadaan Asrama Paser di Malang, yang berisi dua sampai tiga orang per satu kamarnya, Ika beranggapan semua Asrama Paser yang ada di Indonesia kemungkinan sama seperti di Malang.

Ketua Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Paser (KPMKP) Cabang Banjarmasin, Muhammad Rasyidi memaklumi alasan mahasiswa tidak memilih Asrama Paser sebagai tempat tinggal. “Mungkin tidak mau terikat dengan peraturan asrama yang ada, dan kurang suka bersosial karena asrama ini ramai. Saat ini juga perkuliahan online, jadi mahasiswa jarang ke Banjarmasin dan memilih keluar,” tuturnya, Selasa (14/9).

Keadaan Asrama Paser Perlu Perhatian Lebih

Asrama yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Paser untuk menunjang kelancaran proses perkuliahan mahasiswa asal Paser di Banjarmasin ini justru “kekurangan perhatian” dari pemerintah itu sendiri. Rasyidi menyebutkan, kondisi gedung memerlukan perbaikan. “Terdapat kerusakan seperti bocor di kamar dan kondisi toilet yang tidak semuanya bisa berfungsi untuk keperluan mandi dan buang air,” ungkap Rasyidi yang juga menjadi Anggota Asrama Putra Paser.

Anggota Asrama Paser sendiri telah berusaha agar segera ada perbaikan gedung dari pemerintah, akan tetapi respon yang diberikan cenderung lambat. “Dalam tiga tahun terakhir, kami mengajukan proposal ke Bagian Umum Pemerintah Daerah Kabupaten Paser, akan tetapi pemerintah hanya mengunjungi Asrama Paser sebanyak dua kali saja,” ungkap Rasyidi. Lebih lanjut, Rasyidi juga mendapati kabar bahwa setiap tahunnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Paser hanya berfokus pada satu asrama saja yang ada di Indonesia, sehingga belum ada perhatian ke Asrama Paser di Banjarmasin.

Ke depannya, KPMKP Cabang Banjarmasin sebagai wadah aspirasi pelajar dan mahasiswa Kabupaten Paser yang ada di Banjarmasin, tentu menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Paser untuk memberikan perhatian lebih ke Asmara Paser di Banjarmasin. “Semoga ke depannya tim pemeliharaan (Pemerintah Kabupaten Paser) bisa berkunjung ke asrama, agar melihat keadaan kami di sini. Bukan berarti listrik, air, dan koneksi internet yang dibayarkan pemerintah itu sudah cukup, tapi kami juga butuh pemeliharaan gedung,” tutup Rasyidi. (Ais/Redaksi)

Komentar